Kesadaran Berbahasa “Malcolm X”

                Tiba-tiba terbesit dalam benakku suatu pemikiran terang bak halilintar yang menyambar di langit yang muram. Suatu pemikiran tentang sebuah kesadaran dalam belajar terutama kesadaran berbahasa. Kesadaran ini saya temukan dalam volume sebuah biografi yang ditulis oleh Malcolm X.

                Berbicara biografi berarti berbicara tentang pengalaman dan perjalanan hidup seseorang. Tidak banyak yang saya ketahui tentang biografi, yang jelas bagi saya biografi merupakan karya sastra nonfiksi yang memuat tentang pribadi seseorang baik itu prestasi, kegagalan, perjuangan, maupun luka-liku hidup lainnya yang sudah diliput menjadi pengalaman hidup. Menurut saya biografi yang baik itu adalah biografi yang dapat memberi efek kepada Si pembaca. Artinya, biografi tersebut dapat memberi suatu input pada diri Si pembaca baik itu berupa ketenangan, kedamaian, kesejukan jiwa, maupun berupa motivasi yang memberi energi Si pembaca sehingga dapat melahirkan suatu kekuatan dan kesadaran hidup. Begitupun dengan biografi Malcolm X ini.

                Biografi dengan judul “Menemukan Kesadaran Berbahasa” ini membangunkan saya dari tidur panjang yang telah mematikan kesadaran dalam berbahasa.

                “Sedikit pun tak ingin aku berhenti. Apa yang bisa kulakukan, aku akan melakukannya”. Itulah kalimat yang pertama saya baca dalam buku tersebut dan saya menyetuji pernyataan itu. Selama masih diberi ruang dan waktu, selama jantung masih berdetak, selama darah masih mengalir, selama itu pula kita dapat melakukan apa yang ingin kita lakukan. Tidak ada batas ruang dan waktu untuk belajar, hatta di penjara sekali pun seperti yang dikisahkan oleh Malcolm X.

                Ketika mulai terbiasa menulis surat-surat di penjara, dia makin payah tersandung oleh kenyataan betapa jauhnya ia tertinggal dalam pendidikan. Kini ia merasa macet sekali dalam menulis karena kurangnya penguasaan kosa kata. Ketika dikirim ke penjara Charleston, pada dirinya tumbuh rasa cemburu kepada seseorang yang jauh lebih berpengetahuan daripadanya. Dengan begitu ia selalu berusaha menandinginya dengan terus membaca berbagai buku. Tapi, ternyata dalam setiap buku yang dibacanya, selalu saja ada kata-kata yang tidak dimengerti dan tidak dikenalnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk membuka kamus dalam rangka mengatasi persoalannya tersebut.

                Dengan kegigihan dan keinginan yang meluap pada diri serta didukung dengan keyakinan dan komitmennya, ia berhasil menyalin setiap kata pada kamus tersebut meskipun dengan tulisan yang buruk dan kaku. Tapi, ternyata ia menemukan kebahagiaan besar saat menyadari bahwa dalam satu waktu saja ia telah menuliskan banyak kata terutama kata-kata yang sebelumnya tak pernah dikenalnya sama sekali. Setelah itu apa yang terjadi? That is amazing.. Ia berhasil menggudangkan kosa kata yang tersebar pada kamus tersebut ke dalam memori otaknya. Kini ia dapat memahami apa yang tertulis dalam setiap buku yang ia baca. Uniknya sejak saat itu hingga ia keluar dari penjara, ia tidak membaca di perpustakaan tapi di dalam sel. Kini buku dengan dirinya seperti telur dengan cangkang tak bisa dipisahkan.

                Kemudian ia berkata bahwa waktu berlalu tanpa ada secuil pikiran pun tentang ia yang pesakitan. Justru baginya ketika itulah pertama kalinya dia merasakan kebebasan yang sesungguhnya, kebebasan hati, kebebasan pikiran.

                Ternyata kesadaran berbahasa itu seperti sebuah jembatan yang menghubungkan hutan dengan taman. Jembatan kesadaran berbahsa inilah yang mampu membawa kita bermigrasi dari hutan gundul yang gersang ke sebuah taman yang sejuk nan indah penuh dengan bunga dan buah kepuasan pikiran.

                Setelah kesadaran berbahasa atau kesadaran belajar kita sudah terbangun, maka dalam situasi dan kondisi apapun kita akan terus belajar hatta dalam ruang sesempit daun kelor dan meskipun dalam waktu yang sesingkat apapun tidak akan pernah mundur satu langkah pun, terus maju dan terus melakukan apa yang bisa dilakukan. Artinya tidak ada batas ruang dan waktu untuk belajar.

                Tapi, semua ini tentu ada prosesnya. Artinya, kalau kita ingin bermigrasi dari hutan ke taman seperti yang tadi disebutkan, maka otomatis harus melewati jembatan terlebih dahulu. Kita bisa melewatinya apabila ada kemauan dan kerja keras. Tanpa itu, semua tidak akan terwujud. Begitupun dalam belajar.

                Mengutip kata-kata dari seseorang yang besar, yaitu “Dunia baru akan terbuka di hadapan seseorang jika ia selesai membaca gagasan besar”. Maka dari itu kita harus banyak membaca agar dapat menemukan dunia baru kita. Keinginan membaca timbul setelah terbangun kesadaran berbahasa dan kesadaran itu akan terbentuk apabila kuriositi (rasa ingin tahu) dalam diri kita aktif. Maka dari itu, mari kita bangun kuriositi dalam diri agar kita mampu bermigrasi dari hutan gersang ke taman kehidupan yang indah.

English Club ABC

Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan makna, sehingga bahasa disebut sebagai bola permainan makna, ya, atas dasar itu sebisa mungkin kita harus bisa menguasai berbagai bahasa yang sekiranya bahasa itu merupakan bahasa dari negara penguasa ilmu saat ini untuk dapat merebut ilmu yang berserakkan itu dan menempatkannya menjadi milik sang pencipta. Misalnya saja Bahasa Inggris, Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang jika kita ingin berinteraksi dalam lingkup internasional mau tidak mau kita harus bisa berbahasa Inggris.

 

Mungkin itu hanya sekilas tentang latar belakang diadakannya English Club ABC atau juga sering disebut ECA. ECA merupakan salah satu program mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Sudah sekitar satu catur wulan ECA berjalan dan sangat memberikan kesan positif bagi para peserta ECA tersebut. Ada apa saja sih di ECA itu? Dalam ECA yang sudah lebih dari 10 kali dilaksanakan ini terdapat tiga sesi, yaitu sesi warming up, sesi persentasi dan FGD (Focus Group Discussion).

 

Sesi warming up yaitu sesi pemanasan dimana para peserta ECA harus berbicara apapun dengan berbahasa Inggris, biasanya tiap peserta ECA bercerita tentang kegiatannya seminggu ke belakang, ada juga yang bercerita tentang pengalaman berkesannya. Sesuai dengan namanya, sesi pemanasan ini bertujuan untuk pemanasan sebelum beranjak ke sesi-sesi selanjutnya.

 

Selanjutnya sesi persentasi, dalam sesi persentasi salah seorang anggota ECA harus mempersentasikan suatu masalah yang sebelumnya sudah disepakati, tentu saja masalah yang dipersentasikan itu masalah yang up to date. Biasanya ECA diadakan setiap sabtu sore, jadi tema persentasi diberikan sebelum hari sabtu agar para peserta ECA dapat mempersiapkan materi persentasi terlebih dulu, terlepas dari siapa yang akan persentasi pada hari sabtunya. Pada hari sabtunya, setelah sesi warming up, diadakan pengundian untuk menentukan siapa yang akan persentasi. Setelah persentasi selama kurang lebih 10 menit diadakan diskusi tentang materi yang dipersentasikan dengan dimoderatori oleh peserta yang persentasi tadi.

 

Sesi terakhir yaitu sesi FGD (Focus Group Discussion) yaitu sesi diskusi para peserta yang tema diskusinya diberikan di tempat oleh penanggung jawab ECA, biasanya tema FGD ini yaitu masalah yang menimbulkan kontroversi, jadi kita dituntut untuk dapat berpikir cepat dan tepat juga langsung menyampaikannya dalam bahasa Inggris. Dua menit waktu kita untuk berpikir tentang masalah itu selanjutnya kita ungkapkan pemikiran kita itu. Dalam FGD harus ada pembukaan, diskusi, kesimpulan, dan penutup. Dan itu semua harus dari inisiatif kita, siapa cepat dia dapat, siapa yang paling aktif dalam FGD dia yang paling banyak mendapatkan poin, selain aktif juga isi pembicaraan harus berbobot dan nyambung dengan tema yang diberikan.

 

Ya, itu lah sekilas tentang English Club ABC, semoga dapat memberikan gambaran pada para pembaca dan juga memberikan semangat baru untuk terus belajar Bahasa Inggris.

Analisis Hegel tentang Dinul Islam dan Tambahannya

Mungkin yang sudah membaca buku Hegel “Filsafat Sejarah”, akan sedikit teringatkan…

Disini kita akan menemukan pandangan yang cukup mewakili Barat tentang kemajuan dan kemunduran Islam (cek halaman 489-495 versi bahasa Indonesia)..

Di awal terbentuknya Islam, beliau menceritakan betapa mulianya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Di sini ruh ada dalam bentuknya yang paling sederhana, dan rasa tanpa bentuk memiliki tempat tinggalnya yang khusus, karena di dalam gurun pasir mereka tidak ada sesuatu yang dapat dibawa masuk ke dalam bentuk yang konsisten. Hijrah Nabi dari Mekkah pada tahun 622 M merupakan era Islam. Dibawah kepemimpinan penerusnya, Arab mencapai kemenangan yang gilang gemilang.

Abstraksi mewarnai pemikiran orang Islam, Tujuan mereka adalah untuk menetapkan pemujaan abstrak, dan mereka berjuang untuk mencapainya. Semangat ini adalah Fanatisme, yaitu semangat untuk sesuatu yang abstrak. Tapi dengan ini orang Islam mampu mengadakan peninggian yang terbesar.

Segi-segi utama Islam meliputi ini — bahwa dalam eksistensi aktual tidak ada sesuatu yang dapat menjadi tetap, melainkan segala sesuatu itu ditakdirkan untuk mengembangkan dirinya di dalam aktivitas dan hidup dalam amplitudo dunia yang tidak ada batasnya, sehingga pemujaan terhadap yang Satu tetap sebagai satu-satunya ikatan yang dapat menyatukan segalanya. Di dalam perluasan ini energi aktif, semua batas, semua perbedaan bangsa dan kasta hilang; tidak ada ras khusus, pengakuan politis atas kelahiran maupun kepemilikan yang dipertimbangkan — hanya manusia sebagai seseorang yang beriman. Untuk memuja yang Satu, untuk percaya kepada-Nya, untuk berpuasa — untuk menyingkirkan rasa istimewa dan akibat pemisahan dari yang tidak terbatas, muncul dari keterbatasan badaniah — dan untuk memberi zakat — yaitu untuk melepaskan diri dari kepemilikan pribadi — ini adalah hakikat dari ajaran Islam;

Dan pandangan ini adalah dari seorang Hegel yang jelas2 bukan Islam, tapi dia cukup komprehensif dengan menganalisis kemunduran Islam selanjutnya hingga menjadi Islam yang seperti sekarang ini, saling baku hantam, saling sikut sesama, ga ada lagi perasaan “kal jasadil wahid”, semua terpecah ke dalam berbagai aliran, yang aliran kuat dan berkuasa bisa menentukan aliran lain sebagai sesat. Padahal belum tentu aliran yang dominan itu bisa menciptakan kemakmuran adil merata. Yang aliran lain bertindak terlalu ekstrem, sehingga pupuslah itu yang namanya “kal jasadil wahid”, saling bunuh dan saling mendominasi lah yang ada, sedangkan musuh yang jelas malah merayap masuk dan mengakar di pikiran bangsa ini. Mencerca Yahudi tapi ga bisa membuktikan bahwa Dinul Islam itu tatanan hidup yang lebih tangguh, ya ga nyampe2 lah.

Ok, balik ke pemikiran si Hegel ini. Pendek cerita, kerajaan berbagai khalifah tidak bertahan lama; karena dasar yang ditampilkan oleh Universalitas tidak ada yang kuat (nah loh,,mulai deh disindir). Kepemilikan pribadi, yang dahulu berusaha dihilangkan pas jaman Nabi dan Khulafaurrasyidin, menjadi bahan pertimbangan untuk diatur dalam Fiqih. Sehingga pengorbanan para pejuangnya terdahulu untuk mengorbankan secara total anfus wa amwalnya (hawa nafsu dan harta nya) tidak dilestarikan dan malah setiap orang berbondong2 untuk menjaga kepemilikan pribadi mereka, mengatur warisan, dan lain2 yang diatur di Fiqih. Kerajaan Arab yang besar runtuh sama waktunya dengan kerajaan Frank: mahkota dihancurkan oleh para budak dan oleh gerombolan penyerbu yang baru — bangsa Seljuk dan Mongol — dan berbagai kerajaan baru didirikan, dinasti-dinasti baru naik tahta.

Dalam berjuang melawan orang Saracen, keberanian Eropa mengidealisasikan dirinya pada seorang kesatria yang ramah dan mulia. Ilmu dan pengetahuan, khususnya filsafat, dari Arab dibawa masuk ke Barat. Namun di Timur sendiri (Arab), ketika sampai tingkatan tertentu kegairahan telah lenyap, terserap ke dalam kejahatan yang paling kasar. Nafsu yang sangat mengerikan menjadi menonjol, dan karena kenikmatan lahiriah dalam bentuknya yang pertama disetujui oleh Islam mulai berlaku, dan ditunjukkan sebagai PAHALA bagi orang yang beriman di surga, hal ini menggantikan kedudukan sikap fanatisme (jadi fanatisme diubah menjadi sistem Pahala, orang kerjaannya jadi ngitung2 pahala, trus kira2 mikir tertebus ga dosanya dengan pahala yang diraihnya, sehingga makin lemahlah Sistem Dinul Islam, yang asalnya mengabdikan diri sepenuhnya menjadi hamba yang itungan, ibadah aja pake itungan segala). Islam telah lama hilang dari tahap sejarah pada umumnya (mungkin maksudnya dominasinya telah pudar), dan telah mengalami kemunduran di dalam ketenangan dan ketentraman Timur.

Kalo digabung dengan informasi di buku Max I Dimont, dengan migrasi yang cukup besar populasi yahudi dari Arab ke Eropa maka terjadi pula migrasi Ilmu. Bangsa Yahudi terkenal sebagai transporter Ilmu yang selalu berhasil bertahan hidup (identitas keyahudian dan kebangsaan serta ideologinya) saat Peradaban dan kebudayaan tempat dia menumpang sudah redup bahkan mati.

Hegel tidak menyinggung adanya arus migrasi Yahudi ini, tapi analisis rasio nya terhadap Islam jaman itu cukup representatif.

Jadi Kapan Dinul Islam bisa benar-benar “gagah” lagi, menjadi pencerah bagi Timur maupun Barat, jadi harapan tunggal umat manusia, karena kita tahu bahwa Dinul Islam adalah rahmatan lil alamin. Yang pasti tidak dengan pemaksaan membentuk negara Islam, yang pasti bakal tetap menggunakan teknologi maju bahkan harusnya yang paling maju di abad ini, menjadi bangsa yang paling produktif, sehingga masyarakat adil makmur benar2 bukan omong kosong. Hal itu balik lagi ke diri masing2, karena Dinul Islam dimulai dari penataan diri, berlanjut ke penataan keluarga, ke penataan masyarakat/bangsa, dan penataan antar bangsa / dunia. Jadi berpikir membangun Islam bukan untuk satu bangsa saja, walaupun pada kenyataannya emang dimulai dari bangsa tertentu, seperti dulu melalui bangsa Arab. Dinul Islam itu tatanan global, tatanan seluruh umat.

Negara bisa saja masih republik biasa, tapi kehidupan berbangsanya sudah bersendikan tatanan Dinul Islam.

Jadi mulailah dari tatanan pribadi, binalah keluarga yang mantap, berkontribusilah ke bangsa dan dunia. Kita hanya titipan, jadi jika menjadi pendukung dakwah, maka jadilah pengabdi dakwah, bukan hanya jadi pengabdi keluarga saja. Pikirkan nasib orang2 sebangsa kita dulu, kelola sumber daya bangsa oleh bangsa kita sendiri, bukan diberikan begitu saja ke pihak asing, yang merasa pintar berpikirlah untuk mengabdi ke bangsa, bukan hanya karena disini tidak ada fasilitas untuk menerapkan ilmunya malah mengabdi ke bangsa lain, ke korporat asing yang jelas2 telah menguras sumber daya alam dan manusia kita, yang telah menempatkan bangsa kita di bawah telapak kaki kapitalis. Mari bangun bangsa ini, mari berkontribusi ke berbagai daerah di sepenjuru nusantara, jangan cengeng dengan berjuang di pulau JAwa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dll. Bantulah program pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa. Jikapun ada yang berjuang dulu ke luar negeri atau ke perusahaan asing, ya berpikirlah untuk merebut ilmunya dan mengabdikannya ke bangsa ini. Pulanglah, ibu pertiwi ini sangat membutuhkan Anda, jangan cengeng hanya karena birokrasi yang rumit, tidak ada fasilitas lah, dll, ya cobalah masuk ke tatanan pemerintahan, berantaslah sikap2 korup, rancanglah UU yang benar2 berpihak pada tujuan bangsa di pembukaan UUD 1945 seperti mencerdaskan kehidupan berbangsa, mengujudkan masyarakat adil makmur, dll (silakan dicek saja Preambule UUD nya). Perkuat Bhineka tunggal Ika, pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dll. Yang mampu, buatlah usaha baru yang membuka banyak lapangan pekerjaan. Mungkin kita bisa mencontoh China, yang berusaha mencuri Ilmu dari Barat, bahkan membajak untuk kepentingan dan kemandirian bangsa.

Jika bangsa ini menjadi sedemikian maju, saat lumbung “padi” (kemakmuran) tak ada lagi yang bisa menampung hasil produktifitas bangsa ini yang sedemikian makmurnya, maka bangsa lain pun akan melirik dan mencontoh, bila perlu ikut bergabung untuk membangun tatanan di tingkat Dunia.

Sekian saja, Maaf jika banyak salah, karena Saya tidak memiliki Ilmu apapun. saya hanya memiliki harapan yang besar, moga harapan ini bisa dipantulkan dan menjadi harapan bagi pembaca. Selamat berjuang dan berkontribusi untuk bangsa!!

 

Sumber: https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150195426607412

Kalau Kesadaran Mainstream nya emang sudah digeser, sampai kapan pun, takkan pernah jadi.

(Mengarang)

Andaikata saya Yahudi, seperti yang diceritakan di setiap buku2 yang menjadi referensi tentang pergeseran Iman dan Islam.

Hmm, Saya tak perlu mengubah ayat-ayat alquran untuk menggagalkan kebenaran hadist nabi tentang matan ayat2 alquran yang tidak kan berubah sampai akhir jaman. Cukup membikinkan maknanya saja menjadi lebih dangkal dan terlihat menyenangkan/tidak memberatkan bagi para umatnya. Maka mulailah saya bikinkan makna risalah2 nabi dan ayat alquran ke dalam kamus Almunjid dan saya sebar ke seluruh dunia, seakan2 maknanya adalah benar2 sah, padahal saya sendiri yang bikin untuk agenda tertentu bagi keberlangsungan hidup kami (yahudi) di masa mendatang. Dan tahukan Anda, akhirnya makna2 alquran dan hadist yang menjadi mainstream umat Islam di dunia ini bersumber dari kamus ini?. Yap Saya berhasil.

Kenapa Dinul Islam bisa tegak dan bisa mengalahkan tatanan kami (Yahudi) di masa Nabi Muhammad dan Khulafaurrasyidin? itu tidak lebih karena kesadaran umat Nya yang benar2 merindu untuk membangun tatanan Dinul Islam yang saling sejahtera, kasih sayang, dan saling memakmurkan. Kami waktu itu tak bisa berkutik, karena memang mereka bisa membuktikannya dan bahkan menjadi panutan kami.

Tapi setelah berakhir masa khulafaurrasyidin, akhirnya kami punya celah. Maka kami mulai selewengkan makna2 Alquran dan Sunnah Rasul melalui kamus Almunjid, Kami definisikan Iman sebagai percaya, Kami dangkalkan berbagai pemahaman tentang ayat. Inti dari penyelewengan ini harus dimulai dari penguasaan bahasa, karena bahasa adalah alat penyampai makna, dan makna adalah bentuk kesadaran. Jika dari mulai bahasa ini sudah diselewengkan, maka makna nya pun akan menyeleweng, dan kesadarannya pun menjadi tak karuan.

Berhasil kah kami? Mangga dilihat saja kondisi umat Islam saat ini. Apakah mereka benar2 rindu untuk membangun tatanan Dinul Islam minimal yang semegah dulu?Tidak, sekarang UmatNya hanya memikirkan tatanan pribadinya saja, memikirkan yang penting bisa memenuhi rukun iman dan islamnya, bisa terus2 menerus kejar pahala untuk tebus dosa mereka. Hanya itu, tak ada yang akan berusaha membangun tatanan semegah dulu lagi, wong kesadarannya saja sudah tak karuan. Jadi kesimpulannya, Kami sangat berhasil.

walaupun ada yang mengaku negara Islam, tapi kenyataannya tatanan ekonominya tetap kami yang mengatur, bahkan sistem pendidikannya saja hasil meniru dari kami atau hasil karya abal2 kami.

Sebenarnya pernah ada sinyalemen dari peneliti kami pada saat penjajahan Belanda di Indonesia. Yakni, ternyata kaum Muslim di Indonesia, waktu itu mengambil penelitian di tanah Melayu, sangat taat terhadap ajaran, bahkan melebihi ketaatan orang2 Arab. Kami cukup khawatir dengan itu, kami khawatir mereka menemukan kesadaran lama yang akhirnya bisa menggagalkan rencana kami.

Akhirnya kawan2 kami di Leiden (Leiden tempo dulu terkenal sebagai institusi yang digawangi oleh Yahudi) berjuang keras untuk mencegah hal itu. Kami jajah habis2an, mulai dari mewariskan sistem pendidikan kami agar mereka tidak meraih kesadaran itu, kami wariskan tatanan perekonomian kami berdasarkan politik penjajahan, kami wariskan sistem sosial dan politik yang bisa dilihat sekarang seperti apa rupanya, dan lain2. Hal2 tersebut tak lain dalam upaya mencegah bangkitnya Qurun selanjutnya dari Tatanan Dinul Islam yang dulu pernah dibangun oleh Rasul dan para sahabat hingga akhir masa Khulafaurrasyidin.

Saya kira, sampai saat ini saya tidak begitu was2 dengan Indonesia atau negara2 sekitarnya walaupun mayoritas umat mereka itu Islam. Saya jelas2 tak perlu merisaukan negara2 Timur Tengah yang sudah tak karuan lagi tatanannya, paling kalo kepepet, saya buat saja mereka saling perang, Arab Saudi dengan Iran, Israel vs Iran, dan lain2.

Tapi selalu ada kekhawatiran kami terhadap Indonesia dan negara sekitarnya, sinyalemen terdahulu tak bisa diabaikan begitu saja, dan Rasul Muhammad pun menyatakan akan ada Qurun setelah Nya kelak yang bangkit kembali. Indonesia sebenarnya sangat makmur, kalo mereka mandiri. Tapi kami sudah atur agar mereka tidak mandiri, kami kuras semaksimal mungkin harta nya bahkan SDM terbaiknya. ITB?UI? alah, itu cuma penghasil buruh kami saja, mereka takkan lagi mengorek lebih jauh tentang bagaimana membangun tatanan tangguh. Kami beri saja mereka pekerjaan prestisius, gaji tinggi sehingga bisa banggakan keluarga dan tetangganya, paling cuma memotivasi adik2 sebangsanya. Tapi sebenarnya cuma memotivasi saja, tanpa mereka tahu bagaimana gerak membangun tatanan mandiri bangsa.

Mainstream terjemahan ayat2 alquran dan hadist di Indonesia adalah dari kamus Almunjid. Jadi kami tidak terlalu khawatir, walau mereka berjuang mendirikan bank2 syariah, dsb, tapi kesadarannya tidak pernah benar2 bangkit. Lihat saja, masih ada haji berkali2 demi pahala masuk surga, padahal uangnya bisa digunakan untuk membantu pendidikan anak bangsa nya. Lihat saja, umatnya yang berbondong2 beli emas dan mengumpulkan warisan sebanyak2nya tapi menyimpannya di bank2 kami yang notabene kami lah yang mengatur peredaran keuangan mereka. Padahal tatanan Dinul Islam terdahulu berisi orang2 yang berjuang habis2an untuk memberikan kontribusi sebanyak2nya ke dakwah (baik harta maupun pikiran), tapi mereka mengambil seperlunya dari dakwah. Sekarang terbalik, umatnya hanya memberikan seperlunya ke dakwah (yang penting sesuai aturan dari majelis ulamanya) dan menyimpan sebanyak2nya untuk keluarga mereka. Apakah itu sikap orang2 yang merindu untuk membangun tatanan Dinul Islam yang tangguh? Haha, saya kira kesadarannya masih bisa kami kuasai.

Sebenarnya kami khawatir dengan sistem otoriter jaman orde baru dan orde lama. Akan sulit kalo pemimpinnya sudah memiliki kesadaran untuk hidup mandiri. Maka kami gagalkan Program Pelita orde baru, dan kami tumbangkan Suharto, dia dan kroni nya KKN, jadi cukup mudah bagi kami untuk menjatuhkannya. Selanjutnya kami bikinkan suasana Demokrasi di Indonesia. Dan lihatlah hasilnya, asal media nya kuat, maka pemimpin jadi bisa diatur. Program pemerintah pun jadi tidak secemerlang dulu pas dicanangkan PELITA, sekarang program nya cenderung bersifat populis.

Tapi tetap saja, kami masih khawatir, jika negeri seperti ini mulai mandiri. Jika putera2 bangsanya mulai cinta bangsa dan rindu untuk membangun tatanan yang saling mensejahterakan, saling kasih sayang dan saling menghambur kemakmuran. Kami selalu waspada pada kemungkinan itu, Karena sinyalemen dari Rasul Muhammad adalah kepastian, walaupun mungkin saja bangsa ini gagal mencapainya, ditambah sinyalemen dari peneliti kami yang menyelinap ke masyarakat Muslim bangsa ini tempo dulu.

Kebangkitan kesadaran untuk rindu membangun tatanan dinul Islam yang tangguh adalah marabahaya bagi kami, karena tatanan ini bisa menjadi panutan bagi setiap umat yang ada didalamnya (Kristen, Budha, Hindu, dan lain2). dan Kami (Yahudi) tidak lagi bisa jadi panutan buat mereka.

Indonesia masih kami waspadai!

Puisi Dzulkarnain

Dan Drama Perjuangan itu pun berulang,

di Abad yang belum bernama.

Mencakar-cakar Selimut peradaban Barat dan Timur,

Yang ternyata telah begitu rapuh dalamnya.

Tatanan Dinul Islam pun menjadi harapan,

Harapan nyata yang berulang dari masa ke masa.

Tatanan yang menjadi solusi atas kekisruhan Barat dan Timur,

Tatanan yang bukan berkedok agama,

Tapi Tatanan yang benar-benar menghambur kasih sayang,

menghambur kemakmuran, dan saling mensejahterakan.

Cukuplah sudah masa terkatung-katung ini,

Segeralah ambil peran,

dan Dendangkan Drama Perjuangan ini sekeras-kerasnya pendirian,

selembut-lembutnya sikap santun.

Wahai Umat yang merindu,

Tancapkan lah lagi kesadaran tangguh itu,

kesadaran yang pernah jaya di masa Muhammad dan Khulafaurrasyidin,

tapi remuk oleh hingar bingar Naturalisme dan Idealisme.

Kesadaran yang menjadi kunci terbukanya Qurun yang baru,

Qurun kedua, sang Dzulkarnain.

Sumber: Anonymous

Moga menginspirasi!

Berita LKP Doa Bangsa Banjarbaru

Berikut ini berita mengenai kiprah LKP Doa Bangsa unit Banjarbaru, moga LKP Doa Bangsa di unit lain bisa tumbuh dengan prestasinya.

Sumber: Scan-an koran Radar Banjarmasin dari Kader di Banjarbaru.

Just Remind Us!

Bungkuslah ideologi religius yang diusung dengan senjata NKRI, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika,
Bungkuslah seapik mungkin dan seindah2nya hingga meminimalisir pertentangan akibat kemajemukan komponen bangsa.
Yang terpenting gerak nya disesuaikan dengan tujuan UUD 1945, sehingga tak perlu mengubah kepercayaan seseorang.
Hindari debat agama dengan sekular atau ideologi lain, selaraskan saja Gerak untuk mencapai tujuan Bangsa di Pembukaan UUD 1945, kalau masih ada miliarder tapi kaum miskin berserakan tak karuan, mengaca saja ke tujuan bangsa di pembukaan UUD 1945.
Salah satu tujuan bangsa ini adalah adil dan makmur.
Jangan mengatakan “adil” kalau kesenjangan sosial masih sangat jauh.