Kalau Kesadaran Mainstream nya emang sudah digeser, sampai kapan pun, takkan pernah jadi.

(Mengarang)

Andaikata saya Yahudi, seperti yang diceritakan di setiap buku2 yang menjadi referensi tentang pergeseran Iman dan Islam.

Hmm, Saya tak perlu mengubah ayat-ayat alquran untuk menggagalkan kebenaran hadist nabi tentang matan ayat2 alquran yang tidak kan berubah sampai akhir jaman. Cukup membikinkan maknanya saja menjadi lebih dangkal dan terlihat menyenangkan/tidak memberatkan bagi para umatnya. Maka mulailah saya bikinkan makna risalah2 nabi dan ayat alquran ke dalam kamus Almunjid dan saya sebar ke seluruh dunia, seakan2 maknanya adalah benar2 sah, padahal saya sendiri yang bikin untuk agenda tertentu bagi keberlangsungan hidup kami (yahudi) di masa mendatang. Dan tahukan Anda, akhirnya makna2 alquran dan hadist yang menjadi mainstream umat Islam di dunia ini bersumber dari kamus ini?. Yap Saya berhasil.

Kenapa Dinul Islam bisa tegak dan bisa mengalahkan tatanan kami (Yahudi) di masa Nabi Muhammad dan Khulafaurrasyidin? itu tidak lebih karena kesadaran umat Nya yang benar2 merindu untuk membangun tatanan Dinul Islam yang saling sejahtera, kasih sayang, dan saling memakmurkan. Kami waktu itu tak bisa berkutik, karena memang mereka bisa membuktikannya dan bahkan menjadi panutan kami.

Tapi setelah berakhir masa khulafaurrasyidin, akhirnya kami punya celah. Maka kami mulai selewengkan makna2 Alquran dan Sunnah Rasul melalui kamus Almunjid, Kami definisikan Iman sebagai percaya, Kami dangkalkan berbagai pemahaman tentang ayat. Inti dari penyelewengan ini harus dimulai dari penguasaan bahasa, karena bahasa adalah alat penyampai makna, dan makna adalah bentuk kesadaran. Jika dari mulai bahasa ini sudah diselewengkan, maka makna nya pun akan menyeleweng, dan kesadarannya pun menjadi tak karuan.

Berhasil kah kami? Mangga dilihat saja kondisi umat Islam saat ini. Apakah mereka benar2 rindu untuk membangun tatanan Dinul Islam minimal yang semegah dulu?Tidak, sekarang UmatNya hanya memikirkan tatanan pribadinya saja, memikirkan yang penting bisa memenuhi rukun iman dan islamnya, bisa terus2 menerus kejar pahala untuk tebus dosa mereka. Hanya itu, tak ada yang akan berusaha membangun tatanan semegah dulu lagi, wong kesadarannya saja sudah tak karuan. Jadi kesimpulannya, Kami sangat berhasil.

walaupun ada yang mengaku negara Islam, tapi kenyataannya tatanan ekonominya tetap kami yang mengatur, bahkan sistem pendidikannya saja hasil meniru dari kami atau hasil karya abal2 kami.

Sebenarnya pernah ada sinyalemen dari peneliti kami pada saat penjajahan Belanda di Indonesia. Yakni, ternyata kaum Muslim di Indonesia, waktu itu mengambil penelitian di tanah Melayu, sangat taat terhadap ajaran, bahkan melebihi ketaatan orang2 Arab. Kami cukup khawatir dengan itu, kami khawatir mereka menemukan kesadaran lama yang akhirnya bisa menggagalkan rencana kami.

Akhirnya kawan2 kami di Leiden (Leiden tempo dulu terkenal sebagai institusi yang digawangi oleh Yahudi) berjuang keras untuk mencegah hal itu. Kami jajah habis2an, mulai dari mewariskan sistem pendidikan kami agar mereka tidak meraih kesadaran itu, kami wariskan tatanan perekonomian kami berdasarkan politik penjajahan, kami wariskan sistem sosial dan politik yang bisa dilihat sekarang seperti apa rupanya, dan lain2. Hal2 tersebut tak lain dalam upaya mencegah bangkitnya Qurun selanjutnya dari Tatanan Dinul Islam yang dulu pernah dibangun oleh Rasul dan para sahabat hingga akhir masa Khulafaurrasyidin.

Saya kira, sampai saat ini saya tidak begitu was2 dengan Indonesia atau negara2 sekitarnya walaupun mayoritas umat mereka itu Islam. Saya jelas2 tak perlu merisaukan negara2 Timur Tengah yang sudah tak karuan lagi tatanannya, paling kalo kepepet, saya buat saja mereka saling perang, Arab Saudi dengan Iran, Israel vs Iran, dan lain2.

Tapi selalu ada kekhawatiran kami terhadap Indonesia dan negara sekitarnya, sinyalemen terdahulu tak bisa diabaikan begitu saja, dan Rasul Muhammad pun menyatakan akan ada Qurun setelah Nya kelak yang bangkit kembali. Indonesia sebenarnya sangat makmur, kalo mereka mandiri. Tapi kami sudah atur agar mereka tidak mandiri, kami kuras semaksimal mungkin harta nya bahkan SDM terbaiknya. ITB?UI? alah, itu cuma penghasil buruh kami saja, mereka takkan lagi mengorek lebih jauh tentang bagaimana membangun tatanan tangguh. Kami beri saja mereka pekerjaan prestisius, gaji tinggi sehingga bisa banggakan keluarga dan tetangganya, paling cuma memotivasi adik2 sebangsanya. Tapi sebenarnya cuma memotivasi saja, tanpa mereka tahu bagaimana gerak membangun tatanan mandiri bangsa.

Mainstream terjemahan ayat2 alquran dan hadist di Indonesia adalah dari kamus Almunjid. Jadi kami tidak terlalu khawatir, walau mereka berjuang mendirikan bank2 syariah, dsb, tapi kesadarannya tidak pernah benar2 bangkit. Lihat saja, masih ada haji berkali2 demi pahala masuk surga, padahal uangnya bisa digunakan untuk membantu pendidikan anak bangsa nya. Lihat saja, umatnya yang berbondong2 beli emas dan mengumpulkan warisan sebanyak2nya tapi menyimpannya di bank2 kami yang notabene kami lah yang mengatur peredaran keuangan mereka. Padahal tatanan Dinul Islam terdahulu berisi orang2 yang berjuang habis2an untuk memberikan kontribusi sebanyak2nya ke dakwah (baik harta maupun pikiran), tapi mereka mengambil seperlunya dari dakwah. Sekarang terbalik, umatnya hanya memberikan seperlunya ke dakwah (yang penting sesuai aturan dari majelis ulamanya) dan menyimpan sebanyak2nya untuk keluarga mereka. Apakah itu sikap orang2 yang merindu untuk membangun tatanan Dinul Islam yang tangguh? Haha, saya kira kesadarannya masih bisa kami kuasai.

Sebenarnya kami khawatir dengan sistem otoriter jaman orde baru dan orde lama. Akan sulit kalo pemimpinnya sudah memiliki kesadaran untuk hidup mandiri. Maka kami gagalkan Program Pelita orde baru, dan kami tumbangkan Suharto, dia dan kroni nya KKN, jadi cukup mudah bagi kami untuk menjatuhkannya. Selanjutnya kami bikinkan suasana Demokrasi di Indonesia. Dan lihatlah hasilnya, asal media nya kuat, maka pemimpin jadi bisa diatur. Program pemerintah pun jadi tidak secemerlang dulu pas dicanangkan PELITA, sekarang program nya cenderung bersifat populis.

Tapi tetap saja, kami masih khawatir, jika negeri seperti ini mulai mandiri. Jika putera2 bangsanya mulai cinta bangsa dan rindu untuk membangun tatanan yang saling mensejahterakan, saling kasih sayang dan saling menghambur kemakmuran. Kami selalu waspada pada kemungkinan itu, Karena sinyalemen dari Rasul Muhammad adalah kepastian, walaupun mungkin saja bangsa ini gagal mencapainya, ditambah sinyalemen dari peneliti kami yang menyelinap ke masyarakat Muslim bangsa ini tempo dulu.

Kebangkitan kesadaran untuk rindu membangun tatanan dinul Islam yang tangguh adalah marabahaya bagi kami, karena tatanan ini bisa menjadi panutan bagi setiap umat yang ada didalamnya (Kristen, Budha, Hindu, dan lain2). dan Kami (Yahudi) tidak lagi bisa jadi panutan buat mereka.

Indonesia masih kami waspadai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: