Analisis Hegel tentang Dinul Islam dan Tambahannya

Mungkin yang sudah membaca buku Hegel “Filsafat Sejarah”, akan sedikit teringatkan…

Disini kita akan menemukan pandangan yang cukup mewakili Barat tentang kemajuan dan kemunduran Islam (cek halaman 489-495 versi bahasa Indonesia)..

Di awal terbentuknya Islam, beliau menceritakan betapa mulianya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Di sini ruh ada dalam bentuknya yang paling sederhana, dan rasa tanpa bentuk memiliki tempat tinggalnya yang khusus, karena di dalam gurun pasir mereka tidak ada sesuatu yang dapat dibawa masuk ke dalam bentuk yang konsisten. Hijrah Nabi dari Mekkah pada tahun 622 M merupakan era Islam. Dibawah kepemimpinan penerusnya, Arab mencapai kemenangan yang gilang gemilang.

Abstraksi mewarnai pemikiran orang Islam, Tujuan mereka adalah untuk menetapkan pemujaan abstrak, dan mereka berjuang untuk mencapainya. Semangat ini adalah Fanatisme, yaitu semangat untuk sesuatu yang abstrak. Tapi dengan ini orang Islam mampu mengadakan peninggian yang terbesar.

Segi-segi utama Islam meliputi ini — bahwa dalam eksistensi aktual tidak ada sesuatu yang dapat menjadi tetap, melainkan segala sesuatu itu ditakdirkan untuk mengembangkan dirinya di dalam aktivitas dan hidup dalam amplitudo dunia yang tidak ada batasnya, sehingga pemujaan terhadap yang Satu tetap sebagai satu-satunya ikatan yang dapat menyatukan segalanya. Di dalam perluasan ini energi aktif, semua batas, semua perbedaan bangsa dan kasta hilang; tidak ada ras khusus, pengakuan politis atas kelahiran maupun kepemilikan yang dipertimbangkan — hanya manusia sebagai seseorang yang beriman. Untuk memuja yang Satu, untuk percaya kepada-Nya, untuk berpuasa — untuk menyingkirkan rasa istimewa dan akibat pemisahan dari yang tidak terbatas, muncul dari keterbatasan badaniah — dan untuk memberi zakat — yaitu untuk melepaskan diri dari kepemilikan pribadi — ini adalah hakikat dari ajaran Islam;

Dan pandangan ini adalah dari seorang Hegel yang jelas2 bukan Islam, tapi dia cukup komprehensif dengan menganalisis kemunduran Islam selanjutnya hingga menjadi Islam yang seperti sekarang ini, saling baku hantam, saling sikut sesama, ga ada lagi perasaan “kal jasadil wahid”, semua terpecah ke dalam berbagai aliran, yang aliran kuat dan berkuasa bisa menentukan aliran lain sebagai sesat. Padahal belum tentu aliran yang dominan itu bisa menciptakan kemakmuran adil merata. Yang aliran lain bertindak terlalu ekstrem, sehingga pupuslah itu yang namanya “kal jasadil wahid”, saling bunuh dan saling mendominasi lah yang ada, sedangkan musuh yang jelas malah merayap masuk dan mengakar di pikiran bangsa ini. Mencerca Yahudi tapi ga bisa membuktikan bahwa Dinul Islam itu tatanan hidup yang lebih tangguh, ya ga nyampe2 lah.

Ok, balik ke pemikiran si Hegel ini. Pendek cerita, kerajaan berbagai khalifah tidak bertahan lama; karena dasar yang ditampilkan oleh Universalitas tidak ada yang kuat (nah loh,,mulai deh disindir). Kepemilikan pribadi, yang dahulu berusaha dihilangkan pas jaman Nabi dan Khulafaurrasyidin, menjadi bahan pertimbangan untuk diatur dalam Fiqih. Sehingga pengorbanan para pejuangnya terdahulu untuk mengorbankan secara total anfus wa amwalnya (hawa nafsu dan harta nya) tidak dilestarikan dan malah setiap orang berbondong2 untuk menjaga kepemilikan pribadi mereka, mengatur warisan, dan lain2 yang diatur di Fiqih. Kerajaan Arab yang besar runtuh sama waktunya dengan kerajaan Frank: mahkota dihancurkan oleh para budak dan oleh gerombolan penyerbu yang baru — bangsa Seljuk dan Mongol — dan berbagai kerajaan baru didirikan, dinasti-dinasti baru naik tahta.

Dalam berjuang melawan orang Saracen, keberanian Eropa mengidealisasikan dirinya pada seorang kesatria yang ramah dan mulia. Ilmu dan pengetahuan, khususnya filsafat, dari Arab dibawa masuk ke Barat. Namun di Timur sendiri (Arab), ketika sampai tingkatan tertentu kegairahan telah lenyap, terserap ke dalam kejahatan yang paling kasar. Nafsu yang sangat mengerikan menjadi menonjol, dan karena kenikmatan lahiriah dalam bentuknya yang pertama disetujui oleh Islam mulai berlaku, dan ditunjukkan sebagai PAHALA bagi orang yang beriman di surga, hal ini menggantikan kedudukan sikap fanatisme (jadi fanatisme diubah menjadi sistem Pahala, orang kerjaannya jadi ngitung2 pahala, trus kira2 mikir tertebus ga dosanya dengan pahala yang diraihnya, sehingga makin lemahlah Sistem Dinul Islam, yang asalnya mengabdikan diri sepenuhnya menjadi hamba yang itungan, ibadah aja pake itungan segala). Islam telah lama hilang dari tahap sejarah pada umumnya (mungkin maksudnya dominasinya telah pudar), dan telah mengalami kemunduran di dalam ketenangan dan ketentraman Timur.

Kalo digabung dengan informasi di buku Max I Dimont, dengan migrasi yang cukup besar populasi yahudi dari Arab ke Eropa maka terjadi pula migrasi Ilmu. Bangsa Yahudi terkenal sebagai transporter Ilmu yang selalu berhasil bertahan hidup (identitas keyahudian dan kebangsaan serta ideologinya) saat Peradaban dan kebudayaan tempat dia menumpang sudah redup bahkan mati.

Hegel tidak menyinggung adanya arus migrasi Yahudi ini, tapi analisis rasio nya terhadap Islam jaman itu cukup representatif.

Jadi Kapan Dinul Islam bisa benar-benar “gagah” lagi, menjadi pencerah bagi Timur maupun Barat, jadi harapan tunggal umat manusia, karena kita tahu bahwa Dinul Islam adalah rahmatan lil alamin. Yang pasti tidak dengan pemaksaan membentuk negara Islam, yang pasti bakal tetap menggunakan teknologi maju bahkan harusnya yang paling maju di abad ini, menjadi bangsa yang paling produktif, sehingga masyarakat adil makmur benar2 bukan omong kosong. Hal itu balik lagi ke diri masing2, karena Dinul Islam dimulai dari penataan diri, berlanjut ke penataan keluarga, ke penataan masyarakat/bangsa, dan penataan antar bangsa / dunia. Jadi berpikir membangun Islam bukan untuk satu bangsa saja, walaupun pada kenyataannya emang dimulai dari bangsa tertentu, seperti dulu melalui bangsa Arab. Dinul Islam itu tatanan global, tatanan seluruh umat.

Negara bisa saja masih republik biasa, tapi kehidupan berbangsanya sudah bersendikan tatanan Dinul Islam.

Jadi mulailah dari tatanan pribadi, binalah keluarga yang mantap, berkontribusilah ke bangsa dan dunia. Kita hanya titipan, jadi jika menjadi pendukung dakwah, maka jadilah pengabdi dakwah, bukan hanya jadi pengabdi keluarga saja. Pikirkan nasib orang2 sebangsa kita dulu, kelola sumber daya bangsa oleh bangsa kita sendiri, bukan diberikan begitu saja ke pihak asing, yang merasa pintar berpikirlah untuk mengabdi ke bangsa, bukan hanya karena disini tidak ada fasilitas untuk menerapkan ilmunya malah mengabdi ke bangsa lain, ke korporat asing yang jelas2 telah menguras sumber daya alam dan manusia kita, yang telah menempatkan bangsa kita di bawah telapak kaki kapitalis. Mari bangun bangsa ini, mari berkontribusi ke berbagai daerah di sepenjuru nusantara, jangan cengeng dengan berjuang di pulau JAwa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dll. Bantulah program pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa. Jikapun ada yang berjuang dulu ke luar negeri atau ke perusahaan asing, ya berpikirlah untuk merebut ilmunya dan mengabdikannya ke bangsa ini. Pulanglah, ibu pertiwi ini sangat membutuhkan Anda, jangan cengeng hanya karena birokrasi yang rumit, tidak ada fasilitas lah, dll, ya cobalah masuk ke tatanan pemerintahan, berantaslah sikap2 korup, rancanglah UU yang benar2 berpihak pada tujuan bangsa di pembukaan UUD 1945 seperti mencerdaskan kehidupan berbangsa, mengujudkan masyarakat adil makmur, dll (silakan dicek saja Preambule UUD nya). Perkuat Bhineka tunggal Ika, pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dll. Yang mampu, buatlah usaha baru yang membuka banyak lapangan pekerjaan. Mungkin kita bisa mencontoh China, yang berusaha mencuri Ilmu dari Barat, bahkan membajak untuk kepentingan dan kemandirian bangsa.

Jika bangsa ini menjadi sedemikian maju, saat lumbung “padi” (kemakmuran) tak ada lagi yang bisa menampung hasil produktifitas bangsa ini yang sedemikian makmurnya, maka bangsa lain pun akan melirik dan mencontoh, bila perlu ikut bergabung untuk membangun tatanan di tingkat Dunia.

Sekian saja, Maaf jika banyak salah, karena Saya tidak memiliki Ilmu apapun. saya hanya memiliki harapan yang besar, moga harapan ini bisa dipantulkan dan menjadi harapan bagi pembaca. Selamat berjuang dan berkontribusi untuk bangsa!!

 

Sumber: https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150195426607412

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: