Kesadaran Berbahasa “Malcolm X”

                Tiba-tiba terbesit dalam benakku suatu pemikiran terang bak halilintar yang menyambar di langit yang muram. Suatu pemikiran tentang sebuah kesadaran dalam belajar terutama kesadaran berbahasa. Kesadaran ini saya temukan dalam volume sebuah biografi yang ditulis oleh Malcolm X.

                Berbicara biografi berarti berbicara tentang pengalaman dan perjalanan hidup seseorang. Tidak banyak yang saya ketahui tentang biografi, yang jelas bagi saya biografi merupakan karya sastra nonfiksi yang memuat tentang pribadi seseorang baik itu prestasi, kegagalan, perjuangan, maupun luka-liku hidup lainnya yang sudah diliput menjadi pengalaman hidup. Menurut saya biografi yang baik itu adalah biografi yang dapat memberi efek kepada Si pembaca. Artinya, biografi tersebut dapat memberi suatu input pada diri Si pembaca baik itu berupa ketenangan, kedamaian, kesejukan jiwa, maupun berupa motivasi yang memberi energi Si pembaca sehingga dapat melahirkan suatu kekuatan dan kesadaran hidup. Begitupun dengan biografi Malcolm X ini.

                Biografi dengan judul “Menemukan Kesadaran Berbahasa” ini membangunkan saya dari tidur panjang yang telah mematikan kesadaran dalam berbahasa.

                “Sedikit pun tak ingin aku berhenti. Apa yang bisa kulakukan, aku akan melakukannya”. Itulah kalimat yang pertama saya baca dalam buku tersebut dan saya menyetuji pernyataan itu. Selama masih diberi ruang dan waktu, selama jantung masih berdetak, selama darah masih mengalir, selama itu pula kita dapat melakukan apa yang ingin kita lakukan. Tidak ada batas ruang dan waktu untuk belajar, hatta di penjara sekali pun seperti yang dikisahkan oleh Malcolm X.

                Ketika mulai terbiasa menulis surat-surat di penjara, dia makin payah tersandung oleh kenyataan betapa jauhnya ia tertinggal dalam pendidikan. Kini ia merasa macet sekali dalam menulis karena kurangnya penguasaan kosa kata. Ketika dikirim ke penjara Charleston, pada dirinya tumbuh rasa cemburu kepada seseorang yang jauh lebih berpengetahuan daripadanya. Dengan begitu ia selalu berusaha menandinginya dengan terus membaca berbagai buku. Tapi, ternyata dalam setiap buku yang dibacanya, selalu saja ada kata-kata yang tidak dimengerti dan tidak dikenalnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk membuka kamus dalam rangka mengatasi persoalannya tersebut.

                Dengan kegigihan dan keinginan yang meluap pada diri serta didukung dengan keyakinan dan komitmennya, ia berhasil menyalin setiap kata pada kamus tersebut meskipun dengan tulisan yang buruk dan kaku. Tapi, ternyata ia menemukan kebahagiaan besar saat menyadari bahwa dalam satu waktu saja ia telah menuliskan banyak kata terutama kata-kata yang sebelumnya tak pernah dikenalnya sama sekali. Setelah itu apa yang terjadi? That is amazing.. Ia berhasil menggudangkan kosa kata yang tersebar pada kamus tersebut ke dalam memori otaknya. Kini ia dapat memahami apa yang tertulis dalam setiap buku yang ia baca. Uniknya sejak saat itu hingga ia keluar dari penjara, ia tidak membaca di perpustakaan tapi di dalam sel. Kini buku dengan dirinya seperti telur dengan cangkang tak bisa dipisahkan.

                Kemudian ia berkata bahwa waktu berlalu tanpa ada secuil pikiran pun tentang ia yang pesakitan. Justru baginya ketika itulah pertama kalinya dia merasakan kebebasan yang sesungguhnya, kebebasan hati, kebebasan pikiran.

                Ternyata kesadaran berbahasa itu seperti sebuah jembatan yang menghubungkan hutan dengan taman. Jembatan kesadaran berbahsa inilah yang mampu membawa kita bermigrasi dari hutan gundul yang gersang ke sebuah taman yang sejuk nan indah penuh dengan bunga dan buah kepuasan pikiran.

                Setelah kesadaran berbahasa atau kesadaran belajar kita sudah terbangun, maka dalam situasi dan kondisi apapun kita akan terus belajar hatta dalam ruang sesempit daun kelor dan meskipun dalam waktu yang sesingkat apapun tidak akan pernah mundur satu langkah pun, terus maju dan terus melakukan apa yang bisa dilakukan. Artinya tidak ada batas ruang dan waktu untuk belajar.

                Tapi, semua ini tentu ada prosesnya. Artinya, kalau kita ingin bermigrasi dari hutan ke taman seperti yang tadi disebutkan, maka otomatis harus melewati jembatan terlebih dahulu. Kita bisa melewatinya apabila ada kemauan dan kerja keras. Tanpa itu, semua tidak akan terwujud. Begitupun dalam belajar.

                Mengutip kata-kata dari seseorang yang besar, yaitu “Dunia baru akan terbuka di hadapan seseorang jika ia selesai membaca gagasan besar”. Maka dari itu kita harus banyak membaca agar dapat menemukan dunia baru kita. Keinginan membaca timbul setelah terbangun kesadaran berbahasa dan kesadaran itu akan terbentuk apabila kuriositi (rasa ingin tahu) dalam diri kita aktif. Maka dari itu, mari kita bangun kuriositi dalam diri agar kita mampu bermigrasi dari hutan gersang ke taman kehidupan yang indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: